Mengerjakan Tugas Rumah

Diposting pada: 2017-04-07, oleh : MTSN 5 KUNINGAN, Kategori: Informasi

Apa sih keuntungan memberikan anak tugas rumah tangga?
Sekarang ini kebanyakan keluarga terutama yang memiliki pekerja rumah tangga (PRT), anak-anak tidak lagi diberikan beban pengerjaan tugas tradisional rumah tangga oleh orang tuanya.  Orang tua zaman sekarang lebih “menuntut” anak menghabiskan waktunya untuk belajar pelajaran sekolah atau mengikuti berbagai macam les guna pengembangan hobi/bakat anak-anaknya, sedangkan urusan penyelesaian tugas rumah diserahkan hampir seluruhnya ke “mba” atau dikerjakan hanya oleh ibu.  Beberapa alasan yang diberikan orang tua mengapa anak mereka tidak diberi tugas rumah tangga, misalnya: “Kasihan, sekolahnya udah sampe sore jadi ga usahlah dia ikut bantuin urusan rumah.”; “Buat apa dong si Mba klo anakku juga masih harus ngeberesin kamarnya sendiri.”; “Ah yang penting sih anak belajar aja, urusan ngurusin kerjaan rumah bisa dikerjain pembantu.”
Akibatnya, anak menjadi tidak terampil dalam mengerjakan tugas rumah tangga dan ketika PRT pulang kampung, orang tua terutama ibu menjadi kerepotan karena anak tidak bisa dimintai tolong mengurus rumah. Sebenarnya ada banyak keuntungan bagi perkembangan anak ketika mereka diberikan tanggung jawab mengurusi urusan rumah tangga, diantaranya adalah : 

1. Mengembangkan kepercayaan diri dan kemandirian anak. 

Pengalaman-pengalaman keberhasilan menyelesaikan tugas membuat mereka menjadi percaya akan kemampuan dirinya sendiri. Bangga akan ke-bisa-annya membuat anak berani mencoba/ berinisiatif secara mandiri menyelesaikan permasalahan lain yang mereka temui. 

2. Mengajarkan pentingnya menyelesaikan suatu tugas dan mengembangkan rasa bertanggung jawab.

Penting bagi anak untuk belajar bertanggung jawab atas tindakan yang telah mereka lakukan, misalnya setelah puas bermain, anak harus membereskan mainan yang tadi mereka gunakan saat bermain. 

3. Mengajarkan nilai-nilai ketertiban dan kebersihan.

Barang-barang yang tertata dengan apik dan rapih akan lebih mudah ditemukan. Lebih mudah berpikir di lingkungan yang bersih dan terorganisir.

4. Menanamkan kebiasaan saling membantu dan “rasa” sebagai bagian dari keluarga. 

Ketika anak diberikan tugas untuk mengurusi rumah maka ia telah membantu anggota keluarga lain dan anak juga belajar bahwa ia adalah bagian yang tak terpisahkan dari keluarga. 

5. Mengembangkan kemampuan motorik (halus-kasar) dan pengarahan gerakan (koordinasi visual motorik) anak.

Saat anak melakukan tugas rumah tangga anak menggerakkan otot-otot tubuhnya. Ia pun belajar untuk mengarahkan gerakannya agar sesuai dengan tujuan yang dikehendakinya, misalnya belajar mengendalikan sapu, lap pel. 

Bagaimana proses pembiasan agar anak terbiasa mengerjakan tugas rumah tangga ya ?
Memang, pada awalnya adalah hal yang cukup merepotkan untuk mengajari anak-anak mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Anda selaku orang tua harus menjelaskan prosesnya berulang kali agar anak bisa paham apa yang harus mereka lakukan, anda pun harus mendampingi anak ketika melakukannya. Bahkan dalam prosesnya anak mungkin melakukan banyak kesalahan, misalnya ketika anak baru belajar mengepel, lantai malah menjadi becek karena lap yang mereka gunakan terlalu basah, saat belajar mencuci piring, piringnya masih tetap kotor.  Untuk beberapa orang tua yang kurang sabar, tentunya akan lebih mudah untuk meminta “mba” saja yang menyelesaikan atau anda sendiri yang mengerjakan tugas itu dibandingkan mengajari anak untuk melakukannya. Namun yang perlu diingat adalah practice makes perfect. Semakin sering/banyak anda memberikan kesempatan pada anak untuk menyelesaikan tugas rumah tangga maka anak semakin lama akan semakin terampil dalam mengerjakan.

Beberapa orang tua juga kerapkali mengeluhkan bahwa anak mereka tidak mau ikut membantu mengurus urusan rumah meskipun sudah disuruh. Hal ini adalah hal yang sangat wajar terjadi, karena pemikiran anak masihlah berkembang. Kemampuan anak untuk memusatkan perhatian saat melakukan tugas rumah tangga yang membosankan/kurang menarik juga belum terlalu kondusif. Sehingga tidak mengherankan jika anda selaku orang tua harus beradu argumen dulu dan mendengar jawaban “Yaaaa, nanti” atau “Sebentaaaar lagi” dari anak setiap kali anda meminta mereka mengerjakan suatu pekerjaan rumah tangga. 
Hal yang harus diperhatikan dalam memberikan tugas rumah tangga kepada anak adalah bahwa tugas rumah tangga yang diberikan kepadanya sifatnya bukanlah hukuman dan tidak diberikan hanya ketika anda selaku orang tua sedang marah. Sehingga Jika memungkinkan, mulailah membiasakan anak mengerjakan tugas rumah tangga sejak mereka batita.

Jika anak anda sudah lebih besar, maka anda perlu mengajak anak untuk duduk bersama dan berdiskusi secara tenang. Beri penjelasan, bahwa mereka kini sudah semakin besar dan anda selaku orang tua mengharapkan mereka mau membantu anda dalam mengurusi rumah. Katakan dengan tegas, namun tetap bersahabat. Berikan beberapa pilihan tugas rumah yang akan menjadi tanggung jawab mereka. Berikan kesempatan bagi mereka untuk mengeluarkan pendapat dan memilih tugasnya. 
Apapun reaksi anak anda nantinya, anda harus tetap konsisten dan tegas dalam menjalankannya. Jangan mudah mengalah dan langung mentake over tugas yang telah disepakati untuk menjadi tanggung jawab mereka. Buat rencana sebelumnya mengenai tugas-tugas apa saja yang akan menjadi tanggung jawab mereka dan jelaskan juga mengenai jadwalnya (seberapa sering, kapan saja), misalnya mencuci piring bekas makan setiap kali habis makan malam, membawa sampah yang ada di dalam rumah ke tong sampah yang ada di halaman luar setiap malam. Jika anak anda sudah bisa membaca, buatlah daftar tertulis yang lengkap mengenai tugas mereka dan tempelkanlah di area yang mudah dibaca, misalnya di pintu kulkas, sebagai reminder utuk anak. 
Agar tidak menimbulkan kecemburuan maka pemberian tugas rumah tangga haruslah diberikan kepada setiap anggota keluarga misalnya ayah, ibu, PRT, adik, kakak, baik untuk anak anda yang perempuan ataupun laki-laki.  Penggiliran tugas antar anak juga bisa menjadi pilihan, bisa dilakukan dengan membuat kocokan seperti arisan. Sehingga anak tidak bisa mengatakan anda tidak adil dalam memberikan tugas. Penting untuk diingat adalah bahwa pemberian tugas haruslah disesuaikan dengan usia mereka.

Apa saja tugas rumah tangga yang sesuai dengan usia anak?

Usia 2-3 tahun

Anak di usia ini sangat senang meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa, mereka juga gemar membantu, meskipun seringkali bantuan yang mereka berikan tidaklah begitu banyak, karena tugas dapat terselesaikan sepenuhnya atas bantuan orang dewasa. Namun adalah hal yang penting untuk terus mempertahankan kebiasaan mereka gemar membantu sampai mereka besar nantinya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan kesempatan mereka untuk ikut membantu kegiatan yang sedang orang dewasa lakukan dan berikan pujian setiap kali mereka mencoba membantu. “Wah, Tara pintar sekali mau membantu Ibu membereskan mainan.”   Persiapkan alat yang aman untuk mereka gunakan. 
Beberapa tugas rumah tangga yang bisa dilakukan anak di usia ini adalah :
•    Membantu membereskan tempat tidur, membawa bantal dan guling kecilnya. 
•    Mengambil mainan atau buku yang telah dipakai dan menaruh kembali di tempatnya.
•    Menaruh handuk yang telah digunakan di tempat semula.
•    Menaruh baju kotor di wadah baju kotor.
•    Memberi makan hewan peliharaan.
•    Membantu mengelap debu ataupun kotoran dengan menggunakan kaos kaki yang dimasukkan ke tangannya.

Usia 4-5 tahun

Anak usia pra-sekolah menyukai menghabiskan waktu mereka dengan orang dewasa, sehingga anak akan sangat senang jIka anda selaku orang tua, secara pribadi menyediakan waktu untuk mengajari mereka keterampilan mengerjakan tugas rumah tangga yang baru. Kebanyakan anak di usia ini juga sudah bisa menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya tanpa perlu pendampingan yang terus menerus dari orang dewasa. Anak di usia ini juga menyukai “reward” tapi tidak perlu yang besar, memberikan sticker atau cap sudahlah cukup untuk mereka.  
Beberapa tambahan tugas yang bisa dilakukan anak selain tugas di usia sebelumnya adalah:
•    Membantu membereskan tempat tidur, melipat selimutnya.
•    Membereskan dan menata meja (meja makan, meja tamu dsb).
•    Membantu memasak dan menyiapkan bahan yang akan digunakan dalam proses memasak.
•    Membawa dan menaruh barang-barang belanjaan (groceries) sesuai tempatnya, misal telur ditaruh di kulkas, gula, kopi ditaruh sesuai dengan toplesnya, dsb.
•    Menaruh piring/gelas bekas makan di tempat yang telah ditentukan.
•    Membantu menyapu

Usia 6-8 tahun

Meskipun semangat anak di usia ini untuk melakukan pekerjaan rumah tangga seringkali berkurang drastis, namun keinginan mereka sangatlah besar untuk secara mandiri memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Orang tua ataupun pengasuh bisa mengembangkan kemandirian mereka dengan menuliskan daftar tugas yang menjadi tanggung jawab anak. Beri tanda cek list untuk setiap tugas yang berhasil mereka selesaikan sendiri sebagai upaya agar anak terus termotivasi tetap mengerjakan tanggung jawabnya. Beri juga pujian yang bisa meningkatkan kepercayaan dirinya, “Wah Abang canggih nih udah bisa nyapu kamarnya sendiri, ga usah pake dibantu Bunda lagi. Hebat banget deh”.
Beberapa tambahan tugas yang bisa dilakukan anak selain tugas di usia sebelumnya adalah:
•    Mengurusi hewan peliharaan.
•    Memvacum lantai dan mengepel lantai.
•    Membereskan meja belajarnya.
•    Membawa sampah yang ada di dalam rumah ke luar.
•    Melipat dan menaruh pakaian yang telah dicuci.

Usia 9-12 tahun

Seringkali anak di usia ini secara “tiba-tiba” bisa menguasai banyak hal dalam jangka waktu yang singkat. Mereka juga akan lebih menghargai jika mereka diberikan daftar yang jelas mengenai tugas yang menjadi tanggung jawab dengan ekspektansi waktu penyelesaian yang jelas. Memberikan banyak tugas secara tiba-tiba kepada mereka, hanya akan membuat mereka kesal. Ajak anak untuk berdiskusi, beri kesempatan mereka mengeluarkan pendapat dan menentukan sendiri kapan mereka akan melakukan tugas tersebut. Selaku orang tua, anda hanya perlu memberikan batas waktu penyelesaiannya saja. Misalnya : “Kak, pokoknya sebelum kakak tidur jam 9 malam, piring-pring bekas makan malamnya sudah harus beres dicuci ya dan sampah yang di dapur harus sudah dikeluarkan dan ditaruh ke tong depan rumah ya?” Kemudian diskusikan juga konsekuensi yang akan mereka terima jika mereka lalai dalam mengerjakan tugasnya, misalnya waktu mereka menonton TV menjadi dikurangi dan diganti dengan membantu mengerjakan tugas ekstra lainnya. 
Beberapa tambahan tugas yang bisa dilakukan anak selain tugas di usia sebelumnya adalah:
•    Membantu mencuci mobil.
•    Membantu berkebun.
•    Mencuci piring dan gelas.
•    Membersihkan kamar mandi.
•    Membantu menyiapkan masakan sederhana.
•    Menyalakan mesin cuci. 
•    Membantu menjemur pakaian.
•    Membersihkan kaca jendela.
•    Menyapu halaman.

Usia 13-18 tahun

Kebanyakan remaja sudah bisa melakukan semua tugas rumah tangga, asalkan mereka sudah diajari dengan benar sebelumnya di tahapan-tahapan usia sebelumnya. Tapi satu hal yang perlu diingat, bahwa kesibukan mereka baik bersekolah maupun mengikuti aktivitas lainnya dapat membuat mereka tidak memiliki banyak waktu. Sehingga monitor dan diskusikan bersama-sama mengenai kesibukan mereka, seimbangkan antara kegiatan mereka di rumah maupun di luar rumah.
Beberapa tambahan tugas yang bisa dilakukan anak selain tugas di usia sebelumnya adalah:
•    Mengganti lampu atau kantung vacuum cleaner.
•    Mencuci dan menyetrika.
•    Membersihkan kulkas dan peralatan dapur.
•    Menyiapkan makanan.
•    Mengganti genting yang bocor.
•    Menyiapkan daftar belanjaan bulanan. 
•    Pergi ke bank untuk membayar tagihan bulanan seperti listrik, telepon dsb.

Harus diingat bahwa setiap anak “matang” dengan kecepatannya masing-masing dan tidak semua anak di usia yang sama bisa melakukan tugas rumah tangga yang lebih rumit. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa beberapa anak yang lebih muda bisa melakukan tugas yang lebih rumit. Terus dampingi dan evaluasi kebutuhan dan ke-bisa-an dari setiap anak. Beri mereka tantangan untuk melakukan tugas yang lebih rumit ketika mereka sudah menguasai tugas-tugas sederhana/dasar. Hal yang mudah bagi orang tua untuk terus membiarkan anak melakukan tugas yang sama yang telah mereka kuasai, tetapi memperkenalkan secara rutin kepada anak tugas baru yang lebih menantang akan lebih bermanfaat bagi masa depan anak.  Pastikan sebelum anda melepas sendiri anak menyelesaikan tugas, anak diberikan masa training terlebih dulu (diajarkan bagaimana cara melakukannya dengan benar). Hal yang paling penting adalah hargai terus setiap usaha yang telah anak lakukan saat mereka menyelesaikan tugas rumah tangga. Jangan banyak melakukan intervensi dalam proses penyelesaianya, mungkin saja cara anda akan berbeda dengan caranya melakukan suatu tugas. Jangan pula membanding-bandingkan hasil pengerjaan tugas yang telah ia lakukan dengan hasil anak lain.

Penulis : Adimia Rila Oktoga, S.Psi., M.Psi, Psikolog.
(disarikan dari berbagai sumber di About.com Guide)


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http:// contoh :www.m-edukasi.web.id
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini

Forum Multimedia Edukasi  www.formulasi.or.id
22956 Total Hits Halaman
4882 Total Pengunjung
77 Hits Hari Ini
2 Pengunjung Hari Ini
1 Pengunjung Online